Posted on

the face of indonesia’s education

“seandainya..” by agung syakirul (n me as the reviewer)acctually this is the resume that i made for mas agung’s picture that being sent to the art competition in PIMITS 10 and hopefully it won some cash, coz he promise me a half of the prized

Seorang tua yang dengan penuh arti memandangi sekelompok mahasiswa yang sedang bercengkrama di taman jurusannya. Dalam hati dia berpikir apa jadinya bila dahulu kala ketika dia masih muda, masih dalam umur sekolah dapat melanjutkan dan merasakan pendidikan sampai pada jenjang yang paling tinggi, dia membayangkan pasti dirinya dapat membuat seluruh keluarganya bahagia karena pekerjaan yang didapatkan setelah lulus kuliah pastilah terhormat dan mencukupi seluruh kebutuhan keluarganya sampai tujuh turunan. Dalam bayangannya dia melihat dirinya mapan, sehat dan berbahagia dengan keluarganya tanpa khawatir besok akan makan apa, tanpa khawatir biaya sekolah anak cucu, dan yang pasti tempat tinggal di masa tua, yang pasti jelas-jelas jauh dari kenyataan yang dia alami sekarang. Begitulah bayangan seorang tua renta yang sehari-harinya hanya bekerja sebagai pemulung sampah di daerah ITS, beliau yang di masa tuanya harus tinggal dan bekerja sendirian di Surabaya, dan harus berpacu dengan waktu untuk dapat bertahan hidup di kota besar. Beliau membayangkan bagaimana jadinya bila pendidikan di Indonesia tidak sebegitu mahalnya atau bahkan gratis, apakah dia akan mendapat kehidupan yang lebih baik dari sekarang atau bahkan lebih buruk dari apa yang di alaminya sekarang. Ini adalah sebuah dilemma yang dialami Negara berkembang, terutama Indonesia, mahalnya biaya pendidikan yang walaupun merupakan 20% bagian dari APBN Negara, menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia tak dapat mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang paling tinggi, yang pada akhirnya menyebabkan semakin banyak masyarakat yang masih miskin, pengangguran, dan tak terjamin hidupnya. Namun disisi lain kita dapat melihat bahwa sebagian besar mahasiswa yang notabene memiliki intelektual tinggi, cerdas dan kreatif masih banyak yang menjadi pengangguran, memilih pekerjaan yang jauh diluar keahlian yang dipelajari semasa kuliah. Dan pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia masih belum dapat menjamin masa depan setiap masyarakatnya, inilah wajah pendidikan yang terlihat di Indonesia, pendidikan yang entah akan membawa kemana masyarakatnya. 

Advertisements

About misaoearliche

for Now i’m an enthusiast customer, a sweet reviewer, a cook lover, a recipe maker, a fancy hijab style-er (not really a stylist), a creative post-er, a frugal buyer, a seeking-for-eternal-love lover, an intimate craft-er, a crazy knowledge finder, a food picture taker (not yet a photographer), a seasonal traveler, a friend seeker, a mall go-er, an ice cream artisan and an entrepreneur.

2 responses to “the face of indonesia’s education

  1. chaie ⋅

    stuzu skali,,,yg terpnting adalh bgaimana kita bisa mempertahankan hidup ini,,,

  2. eheheeee..ada yang mau ngebaca review akyu yang panjang gulindang dan jijay kumijay ini..baguslah. buat chaie yang emang bener, smoga slalu terselamatkan dari kejamnya hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s